13 August 2007

Remaja, Kenali Organ Tubuhmu

Remaja, Kenali Organ Tubuhmu

Majalah Gemari, Juli 2002
Banyak remaja yang kurang mengenal organ tubuhnya sendiri. Sementara, tingkat keingintahuan remaja tentang perubahan organ reproduksi pada masa pertumbuhannya terkadang meresahkan mereka. Lalu, seberapa penting pengenalan organ tubuh diketahui remaja?

Masa remaja adalah masa penuh perubahan. Semuanya seakan tidak stabil Dan membingungkan, bahkan bagi si remaja sendiri. Perubahan yang paling mudah di lihat, tentu saja adalah perubahan fisik. Tinggi badan bertambah pesat, bentuk badan berubah, yang laki-laki tumbuh kumis, jakun, mengalami mimpi basah, sementara yang perempuan tumbuh payudara Dan mengalami menstruasi. Celakanya, remaja umumnya kurang mengenali organ tubuhnya. Tidak sedikit di antara mereka yang bertanya pada teman sebaya tentang perubahan fisik yang dialami. Dan tidak sedikit pula diantaranya yang terjebak informasi salah.

Salah satu contoh pertanyaan remaja yang kerap muncul di rubik Curhat Harian Kompas yang diasuh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), antara lain; Saya berumur 15 tahun tidak mempunyai bulu ketiak sama sekali. Sedangkan teman-teman saya punya ? kata teman saya hal ini karena saya tidak pernah onani. Apakah benar?….

Tingkat Pemahaman remaja yang dipengaruhi mitos-mitos lingkungan sekitar, khususnya dari teman sebaya, ungkap Guntoro Utamadi, Psikolog yang juga pengasuh rubik Curhat di harian Kompas, dapat membahayakan perkembangan mental remaja bila tidak segera didampingi oleh orang yang dipandang tepat memberi informasi yang benar. Seksualitas menjadi al yang sangat menarik perhatian remaja, karena pada saat remaja perangkat seksualnya telah berkembang pesat Dan dorongan seksualpun menjadi hal yang sangat akrab bagi kehidupan remaja. Pada saat itu, remaja butuh informasi Dan pengetahuan atas semua yang terjadi.

Di Indonesia, remaja masih sering kali menjumpai tantangan Dan hambatan untuk mendapatkan hak reproduksi mereka. Terutama, yang berkaitan dengan akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi. Pelayanan kesehatan reproduksi di Indonesia, ungkap Guntoro, cenderung diperuntukkan bagi pasangan suami istri. Akibatnya, remaja yang notabone belum menikah sering kesulitan untuk mengakses pelayanan ini.

Berikut petikan salah seorang remaja yang sudah sangat berpengalaman dalam perilaku seksual Dan merasa tidak bermasalah dengan perilakunya tersebut. "…..padahal saya Dan dia sudah seperti suami istri. Saya sangat mencintainya. Pacar saya jauh lebih dewasa dari usia saya. Dia 25 sedangkan saya 16 tahun. Orang tua tidak tahu kalau hubungan kami sudah jauh…soalnya kami selalu berhati-hati……

Pemahaman remaja terhadap resiko perilaku yang mereka lakukan seringkali sangat minim. Mereka merasa telah melakukan berbagai pencegahan Dan antisipasi , akan tetapi sebenarnya yang mereka ketahui adalah informasi yang salah. Dan remaja perempuan, lebih rentan terhadap berbagai resiko Dan berbagai kerugian dari perilaku seksual tersebut. Seperti, resiko kehamilan, aborsi, PMS, lebih banyak akan diderita oleh perempuan.

"Tragisnya, banyak remaja perempuan yang tidak bisa mengatakan TIDAK melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Karena ada anggapan ini satu paket dalam berpacaran. Kalau tidak, mereka dianggap bukan anak gaul," cetus Guntoro.

Karena terpedaya oleh rayuan, ketakutan diputus pacarnya, sampai dengan ancaman Dan paksaan membuat remaja perempuan menjadi beresiko lebih tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran terhadap tubuh sendiri Dan pemahaman bahwa tubuhnya adalah miliknya Dan bertanggung jawab, sangat diperlukan bagi remaja perempuan. Kemampuan berkata tidak yang sering kali berhubungan erat dengan rasa percaya diri, harus selalu dilatihkan. Remaja laki-laki juga harus sering diajak mengembangkan dorongan seksualnya Dan menghormati perempuan.

Bukti ketidaktahuan remaja tentang perawatan organ reproduksi ini, bisa dilihat dari data kasus yang masuk dalam rubik curhat. Ada sekitar 11,3 persen remaja perempuan bertanya masalah perawatan organ reproduksinya Dan 6,4 persen remaja laki-laki bertanya hal serupa.

"Jasi sudah waktunya kita menerima kenyataan bahwa remaja butuh informasi pendampingan Dan penddidikan yang baik tentang kesehatan reproduksi Dan seksualitas serta pelayanan yang ramah terhadap remaja," paparnya.

Curhat

Curhat yang merupakan singkatan dari curahan hati adalah istilah yang digunakan remaja untuk "sharing" atau bercerita tentang hal-hal menarik atau mengganggu pikiran mereka, baik kepada teman sebaya maupun kepada orang dewasa. Pertama kali muncul rubik "Curhat" di harian kompas pada 2 Maret lalu dengan judul artikel "Say No to HUS" (Hubungan seksual), banyak remaja memanfaatkan untuk berkonsultasi masalah seksualitas Dan kesehatan reproduksi. Mereka menggunakan saran surat, telepon Dan e-mail untuk berkonsultasi yang dialamatkan pada youth center PKBI.

Dari kasus konsultasi yang masuk ke PKBI, permasalahan remaja terutama yang berkaitan dengan seksualitas telah sedemikian jauh Dan mencapai tahap beresiko tinggi. Walaupun kasus-kasus seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), HIV, penyakit menular seksual (PMS), bahkan kasus terbanyak, akan tetapi jumlah remaja yang telah mengalami hal-hal tersebut telah mencakup membuat kita prihatin Dan perlu waspada. Apalagi kalau kita menyadari kalau jumlah kasus yang muncul dan diketahui hanya merupakan fenomena gunung es, hanya tampak sedikit di permukaan, kalau kita lengah tiba-tiba semuanya sudah terlambat.

Peran media massa, diakui Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas, mampu membentuk realitas dari kehidupan. Ketika menghadapi dorongan seks luar biasa, penyaluran yang dibayangkan remaja adalah hubungan seksual. Dan berbagai media yang menyalurkan minat mereka itu, tersedia di mana-mana dengan murahnya Dan membawa remaja pada perilaku tidak benar.

Celakanya, remaja pun sering menjadi target yang dibidik satu produk. Ini tidak adil, karena dalam hal-hal serius hak-hak mereka terabaikan, sementara pasar terbesar adalah remaja. Maka, remaja hanya berkumpul sosok pembeli yang dijual produk-produk perusahaan besar.

"Karena seringnya remaja dijadikan target, penularan virus HIV pada usia 14 - 20 tahun 60 persen karena suntikan (narkoba)," tegas Maria seraya menambahkan, "buat remaja mengenali bentuk tubuhnya sendiri.

No comments: