13 August 2007

'Sex Education' Pada Remaja Alami Kendala

'Sex Education' Pada Remaja Alami Kendala

Majalah Gemari, Maret 2002
"Dok, anak saya belum pernah diimunisasi. Nangis terus saban malem!" ucap seorang ibu muda sambi menggendong anaknya yang berusia satu tahun didampingi ibunya, saat mendatangi Posyandu RW 07 di Pisangan Baru, Jakarta Pusat, pada salah seorang bidang di sana. Bidan yang bertugas itu pun dengan sigap memberi suntikan DPT 1 pada si anak seraya memberi nasihat pada ibu muda berusia 20 tahun untuk segera membawa anaknya ke Puskesmas terdekat. Selidik punya selidik, ibu muda ini memang tidak memperoleh transfer pengetahuan yang cukup dari orang tuanya. Jangankan cara merawat anak, pentingnya menjaga kesehatan reproduksi pun tidak didapat.

Remaja sudah menggendong anak, tampaknya membuat hati kita menjadi miris. Tragisnya, si ibu muda ini pun tidak tahu apa yang harus diperbuat ketika buah cintanya sakit dan mengganggu tidur sepanjang malam dengan tangis kerasnya. Kasus ini mungkin tidak akan terjadi bila si ibu muda memiliki contoh panutan yang bisa diikuti.

Masih minimnya tingkat pengetahuan sebagian orang tua dalam memberi pendidikan kesehatan reproduksi pada anaknya yang sudah berangkat remaja, mendorong munculnya permasalahan baru bagi generasi selanjutnya. Seperti, menikah usia muda, hamil di luar nikah, lahirnya anak kurang gizi, anak kurang perawatan dan sebagainya. Itu sebabnya, kehadiran sejumlah posyandu maupun klinik-klinik konsultasi remaja memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas generasi muda selanjutnya.

Tidak hanya sebagai ujung tombak program Keluarga Berencana (KB), Posyandu memberikan kontribusi besar bagi para ibu muda yang memiliki anak usia balita (bawah lima tahun). Mereka yang tidak faham seni mendidik anak menjadi mengerti dengan adanya penyuluhan dari para kader Posyandu. Balita yang memiliki kesehatan atau gizi kurang baik, dapat segera diantisipasi dengan pemeriksaan secara berkala melalui KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dimiliki para ibu anggota Posyandu. Bahkan, Posyandu pun bisa menjadi ajang transfer ilmu dari sesama ibu lainnya.

Seperti pemandangan yang terlihat di areal Posyandu RW 07 Kelurahan Pisangan Baru, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, para ibu muda begitu antusias membawa balitanya melakukan pemeriksaan secara rutin. Dari pertimbangan, pemeriksaan KMS, pemberian imunisasi, beragam penyuluhan KB dan pemberian makanan tambahan (PMT). Siapa yang tidak senang bila semua itu bisa didapat secara cuma-cuma.

Menurut Ny. Kosasih, ketua Posyandu, keberadaan Posyandu, keberadaan Posyandu yang didirikan sejak 1985 ini telah berhasil menanamkan tingkat kepedulian keluarga untuk memberikan pola asuh yang baik pada anak. Bahkan, ada bantuan khusus untuk keluarga prasejahtera yang memiliki balita dan ibu hamil. Bantuan ini bisa berupa beras, susu, minyak goreng dan bahan-bahan yang diperlukan lainnya guna mengatasi masalah kekurangan gizi pada balita maupun calon bayi yang bakal dilahirkan.

"Apa yang telah dilakukan Posyandu di sini, saya harap pelaksanaannya ke depan semakin baik," cetus Timothe Gandaho, MD, PhDD, Executive Director Partner in Population and Development: A South-South Initiative Bangladesh saat melakukan observasi penerapan save motherhood di Posyandu. Didampingi Dra. Kasmiyati, MSc, kepala BKKBN DKI Jakarta, Gandaho juga melakukan kunjungan ke Klinik Keluarga Yayasan Kusuma Buana yang berlokasi tidak jauh dari Posyandu.

Selain menyediakan fasilitas persalinan dan berbagai konsultasi kesehatan keluarga, klinik keluarga ini juga menyediakan pusat konsultasi remaja. Bahkan, klinik ini sering mendapat kunjungan siswa-siswa SMU belajar mengenai kesehatan reproduksi atau bahasa trendnya adalah sex education. Namun, diakui Dr Joedo Prihartono, MPH, Direktur Program Kesehatan YKB, pengenalan sex education pada remaja masih mengalami hambatan. Karena, sex education sering diartikan tabu atau sebatas pengertian melatih hubungan seks.

"Sex education sebenarnya adalah bagaimana mendidik anak atau remaja untuk tahu tentang tanggung jawab dia atau si remaja dalam melakukan perannya sebagai orang tua kelak," jelas Joedo seraya menambahkan, "sebagaimana balita, pada remaja yang masih sehat pun harus diberi vaksinasi berupa penyuluhan guna mencegah hal-hal di luar batas keinginan."

Jadi, keterbatasan ilmu yang dimiliki orang tua dalam mendewasakan pola pikir anak-anaknya, menuntun remaja menjadi calon orang tua yang baik, bisa diperoleh dari proses pembelajaran dari lingkungan sekitar. Baik melalui program kegiatan Posyandu maupun mengajak remaja untuk aktif mengikuti program yang diselenggarakan berbagai Pusat Konsultasi Remaja.

No comments: